AIDS

                                                   BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Sindrom Imunodefisiensi Didapat (AIDS) menarik perhatian komunitas kesehatan pertama kali pada ditemukan, tahun 1981, saat terjadi kasus-kasus pneumonia dan Sarkoma Kaposi yang tidak lazim pada laki-laki homoseks di California, Amerika.  Bukti epidemiologik mengisyaratkan terdapatnya suatu agen infektiosa, dan pada tahun 1983 virus imunodefisiensi manusia tipe-1 (HIV-1) diidentifikasi sebagai penyebab penyakit (Barre-Sinoussi et al.,1983; Gallo, 1984).  AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV.   Kasus AIDS mencerminkan infeksi HIV yang sudah berlangsung lama.  Saat ini AIDS dijumpai pada hamper semua Negara, dan merupakan sebuah pandemik di dunia.4

Sampai Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan AIDS telah membunuh 25 juta orang, sejak pertama ditemukan, tanggal 5 Juni 1981.  Data terakhir pada Desember 2004, jumlah ODHA di dunia mencapai estimasi 35,9-44,3 juta orang.7

Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS.  HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara bersamaan, menyebabkan krisis kesehatan, krisis pembangunan Negara, krisis ekonomi, pendidikan juga krisis kemanusiaan.  Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi.  Sebagai krisis kesehatan, AIDS memerlukan respons dari masyarakat dan memerlukan layanan pengobatan dan perawatan untuk individu yang terinfeksi HIV.

Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981.Meskipun demikian, dari beberapa literatur sebelumnya ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika Serikat.  Sampel jaringan potongan beku dan serum dari seorang pria berusia 15 tahun di St. Louis, AS, yang dirawat dengan dan meninggal akibat Sarkoma Kaposi diseminata dan agresif pada 1968, menunjukkan antibody HIV positif dengan Western Blot dan antigen HIV positif dengan ELISA.  Pasien ini tidak pernah pergi ke luar negeri sebelumnya, sehingga diduga penularannya berasal dari orang lain yang juga tinggal di AS pada tahun 1960-an, atau lebih awal.

Virus penyebab AIDS diidentifikasi oleh Luc Montagnier pada tahun 1983 yang pada waktu itu diberi nama LAV (lymphadenopathy virus) sedangkan Robert Gallo menemukan virus penyebab AIDS pada tahun 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III. Sedangkan tes untuk memeriksa antibody terhadap HIV dengan cara ELISA baru tersedia pada tahun 1985.

Istilah pasien AIDS tidak dianjurkan dan istilah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) lebih dianjurkan agar pasien AIDS diperlakukan lebih manusiawi, sebagai subjek dan tidak dianggap sebagai sekedar objek, sebagai pasien.

Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga Negara Belanda di Bali.  Sebenarnya sebelum itu telah ditemukan kasus pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagnosis AIDS dan hasil tes ELISA tiga kali diulang, menyatakan positif.  Hanya, hasil tes Western Blot, yang saat itu dilakukan di Amerka Serikat, hasilnya negatif sehingga tidak dilaporkan sebagai kasus AIDS.  Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1988 di RS Cipto Mangunkusumo, pada pasien hemofilia dan termasuk jenis non-progessor, artinya kondisi kesehatan dan kekebalannya cukup baik selama 17 tahun tanpa pengobatan, dan sudah dikonfirmasi dengan Western Blot, serta masih berobat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2002. 1

Sampai saat ini terapi infeksi HIV belum dapat mengeradikasi HIV.  ARV bukan obat pembunuh virus, nemun pemberian obat tersebut dapat menekan angka kesakitan dan angka kematian.  Namun bila terapi dihentikan, jumlah virus akan kembali seperti semula.  Tujuan utama terapi HIV dengan ARV adalah penekanan secara verkelanjutan jumlah virus, pemulihan dan/atau pemeliharaan fungsi imunologik, perbaikan kualitas hidup, dan mengurangan morbiditas-mortalitas HIV.

 

1.2.  Tujuan Penulisan

1.2.1.      Tujuan Umum

Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto.

1.2.2.      Tujuan Khusus

Tujuan khusus penulisan refrat ini adalah menguraikan permasalah dan penanganan kasus pada pasien dengan HIV/AIDS.

 

                                                            BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.  Etiologi

Infeksi HIV disebabkan oleh Human Imuno-deficiency Virus dahulu disebut Human  T-cell Lymphotrophic Virus type-III (HTLV-III) atau Lypmphadenopathy Virus (LAV).  HIV termasuk golongan retrovirus manusia sitopatik, dari famili lentivirus, yang memiliki materi genetik berupa sepasang asam ribonukleat rantai tunggal yang identik dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase.1,5  HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di dunia.

Virion HIV terdiri dari tiga bagian utama, yaitu envelope yang merupakan lapisan luar, capsid yang meliputi isi virion  dan yang ketiga adalah core yang merupakan isi virion.

Envelope adalah lapisan lemak ganda yang terbentuk dari sel penjamu dan mengandung protein penjamu.  Pada lapisan ini tertanam glikoprotein virus yang disebut gp41.  Pada bagian luar protein ini terikat gp120, molekul ini akan berikatan dengan reseptor CD4 pada saat menginfeksi limfosit T4 dan sel lainnya yang mempunyai reseptor tersebut.  Capsid berbentuk iko-sahedral dan merupakan lapisan protein yang dikenal sebagai p17.  Pada bagian core terdapat sepasang RNA tunggal, enzim-enzim seperti reverse transcriptase, endonuclease  dan protease serta protein-protein struktural terutama p24.          

Gambar 1. Struktur HIV-1 4

2.2.  Epidemiologi

HIV merupakan pandemik dunia.  Hampir setiap negara terdapat infeksi HIV.1,3,7  HIV-2 lebih prevalen di banyak negara Afrika barat, namun HIV-1 merupakan virus predominan di Afrika tengah dan timur, dan bagian dunia lainnya.  Menurut The Joint United Nations Program on HIV/AIDS (2000), bahwa 36,1 juta orang telah terinfeksi HIV dan AIDS pada akhir tahun 2000.  Dari 36,1 juta kasus, 16,4 juta adalah perempuan, dan 600.000 adalah anak-anak berusia kurang dari 15 tahun.5  Data terakhir menyebutkan bahwa sampai Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan AIDS telah membunuh 25 juta orang, sejak pertama ditemukan, tanggal 5 Juni 1981.  Data terakhir pada Desember 2004, jumlah ODHA di dunia mencapai estimasi 35,9-44,3 juta orang.8

Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang mengandung HIV, yaitu melalui hubungan seksual (baik homoseksual maupun heteroseksual), jarum suntuk (pada penggunaan narkotika), transfusi komponen darah, dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya.3,9  Oleh karena itu kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS yaitu pada pengguna narkotika, PSK dan pelanggannya, serta narapidana.

Namun, infeksi HIV/AIDS saat ini juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok risiko tinggi maupun masyarakat umum.  Beberapa bayi yang telah terbukti tertular HIV dari ibunya menunjukkan tahap yang lebih lanjut dari tahap penularan heteroseksual.

Sejak 1985 sampai 1996 kasus AIDS masih sangat jarang ditemukan di Indonesia.  Sebagian besar ODHA pada masa itu berasal dari kelompok homoseksual.  Kemudian jumlah kasus baru HIV/AIDS semakin meningkat, sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam yang terutama disebabkan akibat penularan melalui narkotika suntik.  Sampai dengan akhir Maret 2005 tercatat 6789 kasus AIDS yang dilaporkan.  Pada tahun 2002, Departeman Kesehatan RI memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV adalah berkisar 90.000 sampai 130.000 orang. 

Survey Sentinel yang dilakukan di RS Ketergantungan Obat, Jakarta, menunjukkan peningkatan kasus infeksi HIV pada pengguna Narkotika yang sedang menjalani rehabilitas yaitu 15% pada tahun 1999, meningkat cepat menjadi 40,8% pada tahun 2000, dan 47,9% pada tahun 2001.  Bahkan sebuah survey telah dilakukan di sebuah kelurahan di Jakarta Pusat yang dilakukan oleh Yayasan Pelita Ilmu menunjukkan 93% pengguna narkotika telah terinfeksi HIV.

Survey lain yang dilakukan pada tahun 1999-2000 pada beberapa klinik KB, Puskesmas dan Rumah Sakit di Jakarta yang dipilih secara acak menemukan bahwa 6 (1,12%) ibu hamil dari 537 ibu hamil yang bersedia menjalani tes HIV, ternyata positif terinfeksi HIV.

 

2.3.  Asal Mula HIV

AIDS pertama kali dilaporkan pada 5 Juni 1981, saat Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika menemukan biakan Pneumocystis cranii pneumonia pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.  Sebelumnya tercatat tiga kasus infeksi HIV :

1.      Sampel plasma darah diambil pada tahun 1959 dari seorang laki-laki dewasa di daerah yang kini dikenal Republik Demokratik Kongo.

2.      Ditemukan HIV pada sampel jaringan dari remaja Afrika-Amerika berumur 15 tahun yang meninggal di St.Louis tahun 1969.

3.      Ditemukan HIV pada sampel jaringan dari pelaut berwarganegara Norwegia, meninggal tahun 1976.8

Dua spesies HIV yang menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2, dimana   HIV-1 lebih virulent dan lebih mudah untuk transmisi.  HIV-1 merupakan sumber utama infeksi HIV di dunia, dimana HIV-2 lebih sulit untuk bertransmisi dan lebih banyak ditemukan di Afrika Barat.  HIV-1 dan HIV-2 berasal dari klas primata, dimana HIV-1 berasal dari Chimpanzee (ditemukan di bagian selatan Cameroon), dan HIV-2 berasal dari Monyet tua, ditemukan di Guinea Bissau, Gabon dan Cameroon.8

 

2.4.  Definisi

HIV adalah retrovirus yang menginfeksi organ vital pada sistem imun tubuh manusia, seperti sel T CD4+, makrofag dan sel dendrit.  Secara angsung dan tidak langsung menghancurkan sel T CD4+, yang sangat diperlukan dalam sistem imun tubuh.  HIV menekan sel T CD4+ sampai mencapai jumlah < 200 sel T CD4+ / µL darah.  Hal ini menyebabkan imunitas sel hilang, berlanjut pada kondisi yang kita kenal sebagai AIDS.8

Sedangkan AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh HIV.  AIDS merupakan tahap akhir dari HIV.3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan infeksi HIV yang tidak tertangani dapat dibagi dalam beberapa tahap : 2

 

 

 

Gambar 2. Perjalanan Penyakit HIV

 

2.5.  Patogeneis

HIV dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinalis, semen, air mata, sekresi vagina / serviks, urin, ASI, dan air liur.  Penularan terjadi paling efisien melalui darah dan semen.  Tiga cara utama penularan adalah kontak darah, kontak seksual dan kontak ibu-bayi.  Setelah virus ditularkan, terjadi serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi.

Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV, karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4.  Limfosit CD4+ berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting.  Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif.3

Gambar 3. Hubungan antara HIV (viral load) dengan hasil perhitungan CD4 pada rata-rata

    kasus infeksi HIV yang tidak tertangani.8

 

 

       Perhitungan Limfosit CD4+

       Hasil replikasi HIV RNA , per mL plasma

 

2.6.  Patofisiologi

Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi.3  Perjalanan penyakit HIV dibagi dalam 3 fase, yang meliputi fase akut, fase laten dan fase klinis (fase bergejala).1

2.6.1.      Fase Akut

Fase ini terjadi setelah + 3 minggu infeksi awal.  50-70% penderita HIV mempunyai gejala yang menyerupai mononucleosis akut.  Masa ini berhubungan dengan jumlah virus yang tinggi dalam darah.  Dalam satu minggu sampai tiga bulan akan terbentuk respon imun terhadap HIV.  HIV akan tersebar luas selama fase infeksi, terutama di dalam organ limfoid, kemudian imunitas spesifik HIV yang terbentuk pada fase ini berhubungan dengan penurunan jumlah virus HIV di dalam darah secara tajam sampai mencapai jumlah virus yang relatif konstan.

Proses ini terjadi berminggu-minggu sampai terjadi keseimbangan.  Imunitas spesifik tidak cukup untuk menurunkan replikasi virus keseluruhan.  Penyebaran HIV terjadi di dalam kelenjar getah bening walaupun jumlah virus dalam plasma dan mRNA HIV tidak dapat dideteksi dalam sel-sel molekuler darah tepi.  Perubahan yang terjadi berhubungan dengan respon imun spesifik terhadap HIV.  Replikasi virus HIV tidak dapat dihentikan.

Gejala yang dapat terjadi adalah demam, lemas, nafsu makan turun, sakit tenggorokan (nyeri saat menelan), batuk, nyeri persendian, diare, pembengkakkan kelenjar getah bening, bercak kemerahan pada kulit (makula / ruam).1, 3

Seiring dengan semakin memburukknya kekebalan tubuh, Sindroma HIV akut yang telah disebutkan diatas, akan semakin jelas pada pasien ODHA.

2.6.2.      Fase Laten

Setelah infeksi primer, terjadi penyebaran virus, kemudian berperan imunitas spesifik HIV.  Fase laten yang berjalan dalam hitungan tahun.  Selama masa ini semua pasien mengalami penurunan sistem imun yang dapat dideteksi dengan penurunan CD4.

2.6.3.      Fase Klinis

            Penurunan sistem imunologis secara progresif dapat menimbulkan penyakit yang disebut AIDS, berupa gejala dan tand penyakit umum berat dan lama, infeksi oportunistik atau neoplasma.  Limfadenopati umum progresif pada beberapa pasien sudah terjadi sejak tahap awal infeksi.  Hal ini disebabkan respon imun terhadap HIV yang berlebihan di dalam kelenjar getah bening.  Sarkoma Karposi dapat timbul sebelum terjadinya imunosupresi berat.

 

 

2.7.  Gejala Klinis

Sindroma HIV akut adalah istilah untuk tahap awal infeksi HIV.  Gejalanya meliputi demam, lemas, nafsu makan turun, sakit tenggorokan (nyeri saat menelan), batuk, nyeri persendian, diare, pembengkakkan kelenjar getah bening, bercak kemerahan pada kulit (makula / ruam).9

Lebih dari separuh orang terinfeksi HIV akan menunjukkan gejala infeksi primer. Gejala infeksi primer digambarkan terdapat pada semua populasi yang mempunyai resiko terkena infeksi laki-laki homoseksual, lak-laki dan wanita heteroseksual, resipien organ dari donor yang terinfeksi, pengguna narkotika melalui suntikan, resipien darah yang terkontaminasi dan kecelakaan kerja pada pekerja-pekerja bidang kesehatan.  Sampai sekarang belum ada penelitian yang melaporkan perbedaan gambaran klinis berdasarkan faktro risiko di atas.   Pada 95% kasus sekurang-kurangnya terdapat satu tanda klinis.  Gejala klinis infeksi primer timbul setelah beberapa hari terinfeksi dan berlangsung 2-6 minggu dengan rata-rata 2 minggu setelah terinfeksi.  Infeksi primer HIV dapat tidak bergejala maupun bergejala seperti penyakit flu sampai dengan manifestasi neurologis.

Infeksi primer HIV dapat terjadi segera setelah terinfeksi HIV dan gejala klinik yang terjadi bervariasi baik lama berlangsungnya maupun intensitasnya.  Gejala klinik infeksi primer dapat dibagi menjadi gejala umum, gejala mukokutan, gejala neurologis, gejala gastrointestinal, serta manifestasi pembesaran kelenjar getah bening.  Gejala umum berupa demam, nyeri otot, nyeri sendi dan rasa lemah.  Demam dengan rata-rata suhu tubuh 38,6°C dan beberapa mempunyai suhu tubuh lebih dari 39°C.  Gejala nyeri otot dan nyeri sendi kadang-kadang berhubungan dengan demam.  Gejala tersebut rata-rata berlangsung 16-23 hari. Menetapnya gejala-gejala tersebut lebih dari 14 hari tampaknya berhubungan dengan prognosis yang buruk.

Gejala mukokutan dapat berupa ruam kulit pada lebih dari 60% kasus.  Erupsi kulit dapat berupa erimatus, makulopapular, vesicular, tidak gatal dan biasanya simetris terdapat pada muka, badan dan kadang-kadang anggota gerak tetapi jarang muncul erupsi yang menyeluruh.

Manifestasi gejala getah bening berupa pembengkakan kelenjar getah bening yang biasanya tidak nyeri, dapat bersifat menyeluruh maupun lokal.  Gejala ini didapatkan pada 50% kasus.

Gejala gastrointestinal berupa anoreksia, nausea, diare, dan jamur di mulut serta esophagus.  Gejala infeksi primer ini akan berlangsung selama 2-6 minggu dan akan membaik dengan atau tanpa pengobatan.  Setelah itu perjalanan penyakit menuju stadium tanpa gejala -yang pada orang dewasa lamanya 5-10 tahun.  Setelah masa tanpa gejala akan timbul gejala-gejala pendahuluan seperti demam, pembesaran kelenjar yang kemudian diikuti dengan infeksi oportunistik.  Adanya infeksi oportunistik menunjukkan perjalanan infeksi telah memasuki stadium AIDS.

 

2.8.  Diagnosis

Pada dasarnya pendekatan diagnosis infeksi HIV dilakukan dngan cara yang sama dengan penyakit lain melalui manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang.  Namun cara ini hanya dapat dilakukan bila penderita sudah mempunyai gejala atau simtomatik.  Pada keadaan tidak bergejala atau asimtomatik perlu dilakukan pemeriksaan anti HIV.

Pemeriksaan anti HIV dilakukan bila terdapat perilaku yang beresiko terutama hubungan seksual yang tidak aman atau pengguna narkoba melalui suntik.  Diagnosis infeksi HIV harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menimbulkan dampak yang besar pada orang yang di diagnosis.1

Adapun seorang dewasa dianggap menderita AIDS bila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai, dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 1 gejala minor.  Dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan-keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.  Gejala mayor dan gejala minor yang dimaksud adalah seperti tertera pada Tabel 1.6

Tabel 1.  Definisi AIDS pada orang dewasa (> 12 tahun)

Gejala Mayor

Gejala Minor

 

·        Berat badan turun > 10% dalam 1 bulan

·        Diare kronik, berlangsung > 1 bulan

·        Demam berkepanjangan > 1 bulan

·        Penurunanan kesadaran

·        Gangguan Neurologi

·        Dimensia / Ensefalopati HIV

·        Batuk menetap > 1 bulan

·        Dermatitis generalisata yang gatal

·        Herpes Zooster berulang

·        Kandidosis orofaring

·        Herpes Simpleks kronis progresif

·        Limfadenopati generalisata

·        Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

 

            Langkah-langkah diagnosis yang perlu dilakukan diantaranya:6

1.      Lakukan anamnesis gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait dengan AIDS.

2.      Telusuri perilaku berisiko yang memungkinkan penularan.

3.      Pemeriksaan fisik untuk menari tanda infeksi oportunistik dan kaner terkait.  Perhatikan perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit dan funduskopi.

4.      Pemeriksaan Penunjang, cari jumlah limfosit total, antibody HIV dan foto Rontgen

           

Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan tes terhadap antibody HIV ini yaitu adanya masa jendela atau Window Period.  Masa Jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan.  Antibody mulai terbentuk pada 4-8 minggu setelah infeksi.  Pada masa ini, hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV, dapat memberikan hasil yang negatif.  Untuk itu, jika ada kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan kemudian.3

Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi oportunistik (Tabel 2) atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm3. 2, 3

 

Tabel 2.  Infeksi Oportunistik yang sesuai dengan Kriteria Diagnosis AIDS (1997) 2, 3

Infeksi

Frekuensi (%)

Cytomegalovirus (CMV) selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening

7

CMV Mata (dengan penurunan fungsi penglihatan)

Ensefalopati HIV

Herpes Simpleks, ulkus kronik (>1 bulan), bronkitis, pneumonitis atau esofagitis

5

Histoplasmosis, diseminata atu ekstraparu

0,9

Isosporiasis, dengan diare kronik (>1 bulan)

0,1

Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru

16

Kandidiasis esofagus

Kanker serviks invasif

0,6

Koksidiodomikosis, diseminata atu ekstraparu

0,3

Kriptokokosis, ekstraparu

5

Kriptosporidosis, dengan diare kronik (>1 bulan)

1,3

Leukoensefalopati multifokal progresif

1

Limfoma, Burkitt

0,7

Limfoma, imunoblastik

Limfoma, primer pada otak

Mikobakterium avium kompleks atau M. Kansasii, diseminata atau ekstraparu

5

Mikobakterium tuberkulosis, paru atau ekstraparu

2

Mikobakterium, spesies lain atau spesies yang tidak dapat diidentifikasi, diseminata atau ekstraparu

Pneumonia Pneumoncystis carinii

38

Pneumonia rekuren

5

Sarkoma Kaposi

7

Septikemia Salmonella rekuren

0,3

Toksoplasmosis otak

4

Wasting Syndrome

18

 

 

 

Kriteria klasifikasi HIV menurut sistem WHO seperti tertera pada tabel 2.7,8

 

Tabel 3. Klasifikasi Infeksi Oportunistik HIV berdasarkan WHO

STAGE

Gejala Utama

1

Sakit yang tidak khas

Limfadenopaty yang asimptomatik

(tidak dapat dikategorikan sebagai AIDS)

2

Penurunan Berat Badan < 10%

Manifestasi Mukokutaneus

Infeksi Saluran Pernafasan Atas (berulang)

3

Penurunan Berat Badan > 10%

Diare Kronik tanpa sebab yang jelas > 1 bulan

Demam > 1 bulan

Kandidiasis Oral

TB Paru

4

TB Ekstrapulmonal

Toksoplasmosis

Ensefalopati

Kandidiasis bronkus, trakhea, paru

Sarkoma Karposi

 

2.9.  Penatalaksanaan HIV

Tujuan penatalaksanaan infeksi HIV adalah menekan jumlah virus HIV dalam waktu yang lama dan maksimal, memperbaiki status imunologis, menurunkan mortalitas dan morbiditas serta memperbaiki kualitas hidup.  Pengobatan HIV dapat dibagi dalam:

a.       Pengobatan suportif

b.      Pengobatan infeksi oportunistik

c.       Pengobatan antiretroviral (ARV)

Tujuan pengobatan suportif adalah untuk meningkatkan keadaan umum penderita. Pengobatan ini terdiri atas pemberian gizi yang sesuai, obat sistemik serta vitamin. Disamping itu perlu diupayakan dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula.  Pengobatan suportif ini penting dan umumnya dapat dilaksanakan dirumah atau layanan kesehatan sederhana.

Pemberian ARV ditujukan untuk menekan kadar HIV RNA plasma sampai dengan kadar yang tidak terdeteksi.  Pemberian ARV direkomendasikan untuk penderita dengan sindroma HIV akut akibat infeksi primer HIV dan mereka yang mengalami serokonversi dalam waktu 6 bulan serta semua penderita infeksi HIV yang menunjukkan gejala.  Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transcriptase inhibitor, non-nucleotide reverse trancriptase inhibitor, dan protease inhibitor.

 

Tabel 4. Obat ARV yang beredar di Indonesia.3,6

Nama Dagang

Nama Generik

Golongan

Efek Samping

Sediaan

Dosis (per hari)

Duviral

 

 

 

Tablet, kandungan: Zidovudin 300mg, Lamivunid 150mg

2 x 1 tablet

Stavir

Zerit

Stavudin (d4T)

NRTI

Neuropati perifer, pankreatitis, hepatitis, neutropenia

Kapsul:

30mg, 40mg

> 60kg : 2 x 40mg

< 60kg : 2 x 30mg

Hiviral

3TC

Lamivudin (3TC)

NRTI

Sakit kepala, nausea, diare, nyeri abdomen, insomnia

Tablet 150mg, Lar.Oral 10mg/mL

> 50kg : 2 x 150mg

< 50kg : 2 x 2mg/kgBB/hari

Viramune

Neviral

Nevirapin (NVP)

NNRTI

 

Tablet 200mg

1 x 200mg selama 14hari, dilanjutkan 2 x 200mg

Retrovir

Adovi

Avirzid

Zivovudin

(ZDV, AZT)

NRTI

Nyeri kepala, lemah, insomnia, anemia, netropenia, hepatitis, kardiomiopati, perubahan warna kuku

Kapsul 100mg

2 x 300mg atau

2 x 250mg (dosis alternatif)

Videx

Didanosin (ddI)

NRTI

Neuropati perifer, pankreatitis, hepatitis, hiperurisemia, kemerahan

Tablet Kunyah 100mg

> 60kg : 2 x 200mg

< 60kg : 2 x 125mg

Stocrin

Evavirenz (EFV)

NRTI

 

Kapsul 200mg

1 x 600mg (malam)

Nelvex

Viracept

Nelfinavir (NFV)

PI

 

Tablet 250mg

2 x 1250mg

Norvir

Ritonavir

PI

Intoleransi sal.cerna, peningkatan kolesterol & trigliserid

Tablet

2 x 600mg

 

Mekanisme kerja golongan NRTI adalah dengan menghambat reverse transcriptase HIV sehingga pertumbuhan rantai DNA dan replikasi terhenti.  Pada golongan NNRTI, mnghambat transkripsi RNA HIV menjadi DNA, suatu langkah penting dalam proses replilkasi virus.  Sedangkan PI mempunyai mekanisme kerja menghambat protease HIV, yang mencegah pematangan virus HIV infeksiosa.5

Ringkasan prinsip terapi pada infeksi HIV yang dikembangkan oleh Panel NIH, CDC 1998: 5

1.      Replikasi HIV yang berlangsung terus-menerus menyebabkan sistem imun rusak, dan berkembang menjadi AIDS.  Infeksi HIV selalu merugikan, dan kesintasan jangka panjang sejati yang bebas dari disfungsi sistem imun sangat jarang terjadi.

2.      Kadar RNA HIV dalam plasma menunjukkan besarnya replikasi HIV, dan berkaitan dengan laju destruksi Limfosit-T CD4+ menunjukkan keparahan kerusakan sistem imun akibat HIV yang sudah terjadi.  Pada seorang yang terinfeksi HIV, perlu dilakukan pengukuran periodik berkala untuk kadar RNA HIV plasma dan hitung sel CD4+ untuk menentukkan risiko perkembangan penyakit serta mengetahui saat yang tepat untuk memulai / memodifikasi regimen terapi ARV.

3.      Karena laju perkembangan penyakit berbeda diantara orang-orang yang terinfeksi HIV, maka keputusan tentang pengobatan harus disesuaikan orang-per-orang berdasarkan tingkat risiko yang ditunjukkan oleh kadar RNA HIV plasma dan kitung sel T CD4+.

4.      Pemakaian terapi ARV kombinasi yang poten untuk menekan replikasi HIV dibawah kadar yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan-pemeriksaan RNA HIV plasma yang sensitif akan membatasi kemungkinan munculnya varian-varian HIV resisten-ARV, yaitu faktor utama yang membatasi kemampuan obat ARV menghambat replikasi virus dan perkembangan penyakit.  Karena itu, tujuan terapi seyogyanya adalah penekanan replikasi HIV semaksimal yang dapat dicapai.

5.      Cara yang paling efektif untuk menekan replikasi HIV dalam jangka lama adalah pemberian secara simultan kombinasi obat-obat anti-HIV yang efektif, yang belum pernah diterima oleh pasien, dan tidak memperlihatkan resisten-silang dengan obat ARV yang pernah diterima pasien sebelumnya.

6.      Setiap obat ARV yang digunakan dalam regiman terapi kombinasi harus selalu dipakai sesuai jadwal dan dosis yang optimal.

7.      Jumlah dan mekanisme kerja obat-obat ARV efektif yang tersedia masih terbatas, karena telah terbukti adanya resistensi-silang diantara obat-obat spesifik.  Karena itu setiap perubahan dalam terapi ARV meningkatkan pembatasan-pembatasan terapetik dimasa mendatang.

8.      Perempuan harus mendapat terapi ARV yang optimal, tanpa memandang status kehamilan

9.      Prinsip terapi ARV yang sama juga berlaku pada anak, remaja dan dewasa yang terinfeksi oleh HIV, walaupun terapi pada anak terinfeksi HIV memerlukan pertimbangan farmakologik, virologik, dan imunologik tersendiri.

10.  Individu yang terdeteksi pada infeksi HIV orimer akut harus diterapi dengan terapi ARV kombinasi untuk menekan replikasi virus sampai ke kadar batas deteksi pemeriksaan-pemeriksaan RNA HIV plasma yang sensitif.

11.  Individu yang terinfeksi HIV, walaupun dengan kadar virus dibawah batas yang dapat dideteksi, harus tetap dianggap menular.  Dengan demikian, para pasien ini harus diberi pertanyaan untuk menghindari perilaku seksual dan penyalah-gunaan obat yang berkaitan dengan penularan atau akuisisi HIV patogen menular lainnya.

 

2.10.        Upaya Pencegahan Dan Penanggulangan

Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara, dan amat dianjurkan oleh WHO untuk dilaksanakan secara sekaligus, yaitu : 3

a)      Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda.

Diperlukan strategi penerapan di sekolah, akademi / Universitas dan yang diluar sekolah.

b)      Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran.

LSM berpengalaman dan program magang, akan berguna untuk daerah-daerah yang belum mengerjakan atau ingin memperluas cakupan kelompok sasarannya.

c)      Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik.

Program ini sudah terbina dengan baik, sehingga tinggal melanjutkan agar ada kesinambungan.  Setiap momentum yang terkait dengan HIV/AIDS perlu dimanfaatkan untuk mendorong partisipasi media untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut.

d)      Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika, termasuk program pengadaan jarum suntik steril.

e)      Program pendidikan agama.

Program ini tidak lepas dari pendidikan agama di sekolah dan di rumah.  Namun, beberapa hal mungkin dapat diperbaiki.  Di antaranya, strategi belajar-mengajar yang berpijak pada kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaan bahasa dan idiom-idiom yang disesuaikan dengan peserta.  Sebagai contoh, istilah khamr / alkohol kurang dikenal dalam bahasa sehari-hari remaja.  Demikian pula heroin, kokain, dan LSD tidak begitu dikenal. Mereka lebih mengenal dengan nama putauw, ekstasi, dan cimeng.

f)       Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS).

g)      Program promosi kondom dilokalisasi pelacuaran dan panti pijat.

h)      Pelatihan keterampilan hidup.

Sangat diperlukan oleh remaja agar mengenal potensi diri, tahu memanfaatkan sistem informasi, mengenal kesempatan dan cara-cara mengembangkan diri.  Bila kehidupan ekonomi & pendidikan membaik, niscaya penularan HIV/AIDS dapat ditekan.

i)        Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling.

Pengadaan tempat-tempat tes HIV dan konseling yang mudah dicapai dan suasana akrab dengan klien akan membuat orang-orang yang merasa mempunyai risiko tinggi beringan kaki mendatangi tempat-tempat tes dan konseling HIV tersebut. Dengan konseling, diharapkan ODHA menerapkan seks aman dan tidak menularkan HIV ke orang lain.

 

j)        Dukungan untuk anak jalanan dan pengetasan prostitusi anak.

Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan kepedulian dan partisipasi aktif berbagai lapisan masyarkaat seperti LSM, ahli hukum, ahli ilmu sosial, media massa, kepolisian, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, dll.

k)      Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk ODHA.

Merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan program penganggulangan HIV/AIDS.  Bila kita melaksanakan program pencegahan saja, hasilnya tidak akan sebaik bila dilakukan bersama program pengobatan, layanan dan dukungan untuk ODHA.  Masyarakat yang mendapat penyuluhan saja, kemudian merasa ia melihat tidak ada yang mau merawat ODHA, atau bila ia mengetahui ada ODHA yang dipecat dari pekerjaannya, dan dikucilkan dari keluarga dan masyarakat.

l)        Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.

Sudah cukup banyak program kegiatan penanggulangan HIV/AIDS yang terbukti efektif dan mampu laksana, sudah diterapkan untuk menekan kecepatan peningkatan prevalensi HIV/AIDS di Indonesia.  Namun, perbaikan masih harus dilakukan.  Bukan hanya menyangkut kualitas program, namun juga perluasan cakupan penerima program.

 

                                                  BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1.  Kesimpulan

Sindrom Imunodefisiensi Didapat (AIDS) menarik perhatian komunitas kesehatan pertama kali pada ditemukan, tahun 1981.  Bukti epidemiologik mengisyaratkan terdapatnya suatu agen infektiosa, dan pada tahun 1983 virus imunodefisiensi manusia tipe-1 (HIV-1) diidentifikasi sebagai penyebab penyakit (Barre-Sinoussi et al.,1983; Gallo, 1984).  AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV.   Kasus AIDS mencerminkan infeksi HIV yang sudah berlangsung lama.  Saat ini AIDS dijumpai pada hamper semua Negara, dan merupakan sebuah pandemik di dunia.4

Sampai Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan AIDS telah membunuh 25 juta orang, sejak pertama ditemukan, tanggal 5 Juni 1981.  Data terakhir pada Desember 2004, jumlah ODHA di dunia mencapai estimasi 35,9-44,3 juta orang.7

Virus penyebab AIDS diidentifikasi oleh Luc Montagnier pada tahun 1983 yang pada waktu itu diberi nama LAV (lymphadenopathy virus) sedangkan Robert Gallo menemukan virus penyebab AIDS pada tahun 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III.  Sedangkan tes untuk memeriksa antibody terhadap HIV dengan cara ELISA baru tersedia pada tahun 1985.

Istilah pasien AIDS tidak dianjurkan dan istilah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) lebih dianjurkan agar pasien AIDS diperlakukan lebih manusiawi, sebagai subjek dan tidak dianggap sebagai sekedar objek, sebagai pasien.

Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga Negara Belanda di Bali.  Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1988 di RS Cipto Mangunkusumo, pada pasien hemofilia dan termasuk jenis non-progessor, artinya kondisi kesehatan dan kekebalannya cukup baik selama 17 tahun tanpa pengobatan, dan sudah dikonfirmasi dengan Western Blot, serta masih berobat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2002.1

Infeksi HIV disebabkan oleh Human Imuno-deficiency Virus dahulu disebut Human  T-cell Lymphotrophic Virus type-III (HTLV-III) atau Lypmphadenopathy Virus (LAV).  HIV termasuk golongan retrovirus manusia sitopatik, dari famili lentivirus, yang memiliki materi genetik berupa sepasang asam ribonukleat rantai tunggal yang identik dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase.1,4  HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di dunia.

HIV dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinalis, semen, air mata, sekresi vagina / serviks, urin, ASI, dan air liur.  Penularan terjadi paling efisien melalui darah dan semen.  Tiga cara utama penularan adalah kontak darah dan kontak seksual dan kontak ibu-bayi.  Setelah virus ditularkan, akan terjadi serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi.

Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV, karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4.  Limfosit CD4+ berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting.  Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif.3

Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi.3  Perjalanan penyakit HIV dibagi dalam 3 fase, yang meliputi fase akut, fase laten dan fase klinis (fase bergejala).1

Sindroma HIV akut adalah istilah untuk tahap awal infeksi HIV.  Gejalanya meliputi demam, lemas, nafsu makan turun, sakit tenggorokan (nyeri saat menelan), batuk, nyeri persendian, diare, pembengkakkan kelenjar getah bening, bercak kemerahan pada kulit (makula / ruam).8

Pada dasarnya pendekatan diagnosis infeksi HIV dilakukan dngan cara yang sama dengan penyakit lain melalui manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang.  Namun cara ini hanya dapat dilakukan bila penderita sudah mempunyai gejala atau simtomatik.  Pada keadaan tidak bergejala atau asimtomatik perlu dilakukan pemeriksaan anti HIV.

Pemeriksaan anti HIV dilakukan bila terdapat perilaku yang beresiko terutama hubungan seksual yang tidak aman atau pengguna narkoba melalui suntik.  Diagnosis infeksi HIV harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menimbulkan dampak yang besar pada orang yang di diagnosis.1  Adapun seorang dewasa dianggap menderita AIDS bila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai, dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 1 gejala minor.5

Tujuan penatalaksanaan infeksi HIV adalah menekan jumlah virus HIV dalam waktu yang lama dan maksimal, memperbaiki status imunologis, menurunkan mortalitas dan morbiditas serta memperbaiki kualitas hidup.  Pengobatan HIV dapat dibagi dalam:

a.       Pengobatan suportif

b.      Pengobatan infeksi oportunistik

c.       Pengobatan antiretroviral (ARV)

Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara, dan amat dianjurkan oleh WHO untuk dilaksanakan secara sekaligus, yaitu : (a) Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda; (b) Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran; (c) Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik; (d) Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika, termasuk program pengadaan jarum suntik steril: (e) Program pendidikan agama; (f) Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS); (g) Program promosi kondom dilokalisasi pelacuaran dan panti pijat; (h) Pelatihan keterampilan hidup; (i) Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling; (j) Dukungan untuk anak jalanan dan pengetasan prostitusi anak; (k) Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk ODHA; (l) Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.3

 

3.2.  Saran

Perlunya kesadaran individual masyarakat akan pentingnya pengetahuan tentang HIV/AIDS.  Lebih diperbanyak frekuensi pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan yang berkaitan dengan HIV/AIDS di Indonesia, baik olah LSM ataupun perorangan (misalnya berupa tugas akhir, pribadi / kelompok dalam suatu tingkat studi pendidikan).

Sudah saatnya bagi Pemerintah untuk mendukung penuh serta mengadakan kegiatan rutinitas pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.  Pelaksanaan dapat dilakukan misalnya dengan cara bergiliran pada tiap kabupaten yang ada di Indonesia, agar seluruh lapisan masyarakat menerima pesan yang dimaksud dalam setiap kegiatannya.

 

disusun oleh :

Ridwan Hasyim

Novi Firman Syah

persetujuan RSP jakarta

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: